Pergantian Kekhalifahan IKRAMA


Assalaamu'alaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat dan karuniaNya sehingga kita masih diberikan nikmat iman dan islam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Dengan terpilihnya ketua yang baru untuk menggantikan kekhalifahan Akhi Abdul Aziz Al Mubarok dan Ukhti Ai Siti Jenab dan terpilihnya Abdul Aziz sebagai Ketua IKRAMA Ikhwan dan Ukhti Reres Restuti, Maka nahkoda IKRAMA berada di tangan para pengurus yang baru.

Semoga kekhalifahan yang baru bisa mempererat ukhwah antar pengurus dan tetap memperjuangkan jalan dakwah dengan niat IBADAH. Amin.


Apa yang terjadi jika sangkakala ditiup Israfil AS?



Dari berbagai sumber, salah satunya Al Qur’an Karim, Malaikat Israfil AS hanya akan meniup sangkakala sebanyak tiga kali saja. Tetapi efek dari tiupan itu niscaya akan menimbulkan bencana luar biasa. Dahsyatnya tsunami menghantam Aceh beberapa tahun silam belum seberapa dibanding dengan hebatnya bencana yang ditimbulkan oleh tiupan sangkakala Malaikat Israfil AS. Coba saja lihat, pada tiupan pertama akan membuat alam semesta berikut isinya terkejut dan ketakutan, “Dan ingatlah hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah (ketakutan) segala yang di langit dan segala yang di bumi” (QS. An-Naml: 87). Tiupan pertama sangkakala oleh Malaikat Israfil AS ini sesungguhnya hanya sekadar “peringatan dini”, tetapi akan memberikan dampak luar biasa yakni berupa huru-hara dan kegoncangan hebat di sana-sini.

Selesai memberikan peringatan dini kepada alam semesta berikut dengan penghuninya, Malaikat Israfil AS kembali meniup sangkakala untuk kedua kali. Dampak yang lebih luar biasa pun terjadi: Semua penghuni alam semesta mati, kecuali mereka yang dikehendaki Allah SWT untuk tetap hidup! Tiupan terompet Malaikat Israfil AS kedua inilah yang kita kenal sebagai “kiamat kubra” atau kiamat agung/besar. Setelah semua makhluk di alam semesta ini musnah, giliran Malaikat Izrail AS ditugaskan Allah SWT untuk berturut-turut mencabut nyawa Malaikat Jibril AS, Malaikat Mikail AS, dan terakhir Malaikat Israfil AS. Saat itulah tidak ada satu makhluk ciptaan-Nya yang berkeliaran di jagat semesta maupun di langit. Masa “kekosongan” ini, menurut para ahli kitab, akan berlangsung selama empat puluh tahun lamanya (diukur berdasarkan hisab yang dibuat Allah SWT, bukan berdasar pada kalender hitungan manusia!). Pada saat itu pula Allah SWT menantang manusia-manusia sombong dan angkuh, “Akulah Raja, maka di manakah para raja dan semua orang yang sombong dan takabur?” yang ternyata tidak ada satu pun manusia lolos dari kiamat kubra.

Gambaran lain tentang dahsyatnya kiamat tertulis dalam Hadist Abi Sa’id Al-Hudry RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana dapat senang? Sedang si pemilik sangkakala telah meletakkan sangkakala di mulutnya, memasang telinganya, dan menundukkan dahinya untuk menunggu kapan dia disuruh meniupnya.” Lalu salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, berilah saya gambar.” Rasulullah SAW lalu bersabda lagi, “Bila sangkakala telah ditiup, maka bumi akan goncang karena getar suaranya dan bumi bagaikan bulu yang tertiup angin. Laut akan mendidih meluap menjadi satu. Setelah itu bumi akan digenangi air, kemudian air laut akan merembes ke dalam bumi sehingga tidak akan tersisa di atas bumi setetes air pun, seorang wanita yang menyusui anaknya akan kehilangan anaknya, wanita hamil akan melahirkan (keguguran) karena rasa takut yang muncul pada hari itu. Manusia akan seperti nyamuk semuanya, karena ngerinya hari itu, anak-anak akan tumbuh uban dan semua makhluk akan mati…”

Menurut sejumlah riwayat lain disebutkan bahwa Malaikat Israfil AS meniup sangkakala hanya dua kali. Tiupan pertama adalah untuk mengagetkan dan mematikan semua makhluk ciptaan-Nya dan tiupan kedua untuk membangkitkan. Namun para ahli tafsir kitab lain menyebutkan, terjadinya tiupan ketiga yang akan membangkitkan semua makhluk ciptaan-Nya dari kematian. Malaikat Israfil AS meniup sangkakala ketiga kalinya sambil berkata, “Hai, tulang-tulang yang telah hancur dan kulit-kulit yang telah rusak, bangunlah kalian sekalian untuk perhitungan.” Semua makhluk yang telah dibangkitkan lagi dari kematian lalu digiring ke Padang Mahsyar untuk menghadapi Pengadilan Allah SWT.

Sangkakala

Untuk menambah dan mempertebal keimanan akan kepastian terjadinya kiamat, tidak ada salahnya dalam artikel ini saya sedikit menggambarkan bentuk sangkakala yang dikutip dari berbagai sumber.

Diceritakan Abu Hurairah RA pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang sangkakala Malaikat Israfil AS. Beliau menjawab, “Terompet itu adalah sebuah tanduk raksasa yang terdiri dari cahaya. Besar tiap lingkaran dalam tanduk itu sebesar langit dan bumi, dan terompet itu akan ditiupnya sebanyak tiga kali. Tiupan pertama membuat para makhluk ketakutan, tiupan kedua mematikan makhluk, dan tiupan ketiga membangkitkan makhluk dari kubur/kematian.” Pada riwayat lain disebutkan, sangkakala mempunyai empat cabang masing-masing mengarah ke arah barat, timur, bawah, dan satu cabang lagi ke arah langit tujuh. Adapun lingkaran sangkakala berukur selebar langit dan bumi di mana di dalamnya terdapat pintu sebanyak jumlah arwah. Di sana juga terdapat tujuh puluh ruangan yang salah satunya dihuni oleh arwah para nabi/rasul, sementara ruang lainnya disi arwah jin, binatang, dan lain-lainnya. Wallahu’alam.



Source: http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/08/malaikat-israfil-as-dan-kiamat-579793.html

Munafik

"Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik."
(Q.S. At-Taubah 9:84)

Quote



Si Gubernur Miskin

Hari itu kota Hims, salah satu kota besar di bilangan Syam, dikejutkan oleh inspeksi mendadak sang khalifah Umar bin Khoththob. Sebenarnya inspeksi semacam ini bukan hal yang aneh bagi kaum muslimin pada zaman itu. Pasalnya, khalifah yang satu ini memang terkenal suka melakukan peninjauan langsung terhadap kinerja seluruh staf-staf kenegaraannya. Apabila ada hal yang tidak beres dia tidak segan-segan memecat dan mengganti pegawainya.

Begitu tiba di kota Hims, Umar meminta kepada beberapa staf setempat untuk mensurvey nama-nama fakir miskin di wilayah tersebut. Beberapa saat kemudian, para pegawai kembali dengan sebuah laporan tertulis berisi daftar nama-nama fakir miskin.

Disaat membuka buku laporan itu lembar demi lembar, tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah nama,

"Sa'id bin 'Amir". Sejenak, dia berkelana didalam memori kepalanya, membongkar tumpukan nama-nama orang yang pernah ia kenal, sembari mencocokan nama orang ini: "Sa'id bin 'Amir", sepertinya nama ini tidak asing baginya.

"siapa yang kalian maksud dengan Sa'id bin 'Amir disini?" Tanya Umar keheranan.

" wahai amirul mukminin, dia itu gubernur kami" jawab mereka.

"apa..!? gubernur kalian?!? "
Mendengar jawaban itu ubun-ubun Umar bagai disambar petir. Ternyata dugaannya benar, orang ini memang sangat tidak asing baginya.

"Bagaimana namanya bisa dia masuk kedalam daftar fakir miskin? Kemana gajinya selama ini?"

"wahai amirul mukminin, dia tidak menyimpan gajinya sedikit pun" jawab mereka.

Mendengar pernyataan tersebut hatinya menjadi luluh, tanpa terasa butir demi butir air mata mulai membanjiri pipinya, membayangkan betapa sengsaranya sahabat sekaligus orang kepercayannya yang satu ini menanggung beban.

Gubernur yang satu ini begitu zuhud. Tiap bulannya, dia hanya mengambil beberapa keping uang gaji yang dia rasa cukup untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangganya, sisanya dia sedekahkan kepada fakir miskin.

Sebagai seorang gubernur, sosoknya begitu berbeda dibandingkan para pejabat negara lainnya, begitu kontras dengan jabatan yang ia sandang. Tidak punya istana, penampilan ala kadarnya, tidak ada satupun petugas keamanan berjaga di pintu rumahnya, dan tidak ada seorang pun pelayan atau budak belian di rumahnya.
Sa'id bin 'Amir bin Hadzyam, memeluk agama islam beberapa waktu sebelum terjadinya perang Khaibar. Reputasinya sebagai salah satu orang-orang sholih yang dapat diamanahi, mendorong Umar untuk memanggilnya beberapa waktu lalu seraya berkata,

"Sa'id, aku memanggilmu kemari untuk mengangkatmu sebagai gubernur di wilayah Syam".

Kalau saja manusia zaman sekarang disodorkan tawaran semacam ini, tentu dia akan kegirangan bukan kepalang. Begitulah orang-orang yang memandang kekuasaan sebagai ladang subur untuk meningkatkan taraf perekonomian hidup (baca: memperkaya diri).

Namun lain halnya dengan orang-orang yang pernah mengenyam bangku madrasah Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasalam- semacam Sa'ad bin 'Amir. Jawaban yang keluar dari mulutnya bukanlah "jazakallahu khoiron" atau ucapan manis semacamnya, melainkan kata-kata,
"wahai Umar, kumohon, jangan kau lempar diriku ke dalam kubangan fitnah".

Begitulah, sahabat yang mulia ini menolak mentah-mentah tawaran mengiurkan itu. Aneh memang, kalau dilihat melalui kacamata materialis tentu perbuatannya ini merupakan hal dungu. "Alangkah bodohnya orang ini, diberi kesempatan hidup enak kok malah disia-siakan", kira-kira begitulah tanggapan orang-orang yang hatinya sudah terbakar nafsu dunia.

Adapun Sa'id bin 'Amir, melalui pelajaran-pelajaran nubuwah yang ia cerna selama di madrasah Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasalam-, dia memahami bahwa berkuasa sama artinya dengan menanggung beban amanat sangat-sangat berat untuk di pertanggungjawabkan di padang mahsyar nanti. Setiap rasa lapar yang diderita rakyatnya, sekecil apapun kedzaliman yang terjadi, itu semua akan menjadi bahan pertanyaan pada hari kiamat kelak.

Namun, Umar lantas menanggapi penolakan Sa'id tadi dengan tegas, "demi Allah, aku harus memaksamu, seenaknya saja kalian membebankan amanat ini ke atas pundakku lantas kalian mau pergi bagitu saja tanpa membantuku".

Jawaban Umar barusan membuatnya terpaksa menerima tawaran tadi, bukan atas dasar hawa nafsu untuk menjadi penguasa, melainkan atas dasar menjalankan perintah Allah ta'ala untuk saling membantu dalam melaksanakan ketakwaan. Memang tidak adil rasanya, apabila Sa'id membiarkan Umar bin Khoththob sendirian menanggung beban amanah kekhalifahan yang berat, sementara dia memiliki kemampuan untuk membantunya. Yang membebani Umar dengan amanat berat kekhalifahan itu adalah para sahabat, jadi sudah sepantasnyalah bagi para sahabat seperti Sa'id untuk membantunya. Begitulah para sahabat Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasalam-, memandang amanah kekuasaan bukan sebagai sesuatu yang layak untuk diperebutkan, melainkan sebagai suatu beban berat yang akan memperlambat laju mereka dalam menempuh perjalanan akhirat. Oleh karenanya, kita akan menyaksikan hal-hal aneh dalam keseharian mereka yang menggambarkan secara jelas bahwa mereka mengemban amanah pemerintahan bukan untuk berfoya-foya.

Contohnya kisah berikut:
Pada kesempatan lainnya, Umar mengumpulkan penduduk kota Hims di suatu tempat guna mendengar secara langsung kesaksian mereka tentang kinerja para staf pemerintahan disana. Umar melontarkan pertanyaan kepada mereka,

"wahai penduduk Hims, bagaimana pendapat kalian mengenai kinerja gubernur kalian?"

Mereka menjawab, "wahai amirul mukminin, ada empat hal yang kami keluhkan tentang kinerja gubernur kami. Adapun yang pertama, setiap harinya, dia baru keluar dari rumahnya untuk melayani kami dikala matahari sudah tinggi"

"benar-benar keterlaluan",kata Umar menanggapi keluhan mereka.
Keluhan pertama ini membuat tekanan darah Umar meningkat, pertanda rasa marah dan kecewa mulai menghampiri dirinya.

"lalu apa lagi?",tanyanya.

"yang kedua, apabila malam tiba, dia tidak mau melayani siapapun", jawab mereka.

"ini juga sudah kelewatan", tanggapnya.
Keluhan kedua ini membuatnya semakin kecewa.

"lalu apa lagi?",tanyanya lebih lanjut.

"yang ketiga, dalam satu bulan, ada satu hari dimana dia tidak melayani kami sama sekali",jawab mereka.

"ini sudah melampaui batas wajar", kata Umar yang makin bertambah kecewa.
?lalu apa lagi?? tanyanya kembali.
?yang keempat, dia sering sekali mendadak pingsan tak sadarkan diri? , jawab mereka.

Keempat keluhan ini benar-benar mengganggu perasaan Umar. Pasalnya, Sa'id bin 'Amir adalah salah satu sahabat Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasalam- yang terpercaya. Umar sangat mengetahui reputasinya selama ini. Rasanya tidak mungkin dia berbuat demikian kecuali ada alasan kuat yang mendorongnya. Akhirnya, dia memanggil Sa'id bin 'Amir sang gubernur guna dimintai keterangan mengenai keluhan-keluhan penduduk Hims atas kinerjanya selama ini.

Tidak tanggung-tanggung, dia memanggilnya dan mengadilinya langsung dihadapan penduduk kota.
Sebelum memulai sesi pengadilan, Umar sempat melantunkan doa,"Ya Allah, Janganlah kau jadikan penilaianku selama ini terhadap dirinyameleset".

Walaupun kritikan-kritikan pedas yang tidak menyenangkan hati tadi datang bagaikan hujan anak panah, namun di sudut hatinya Umar masih menyimpan prasangka baik terhadap Sa'id. Tidak mungkin penilainnya terhadap sahabat yang satu ini meleset. Pasti ada alasan kuat yang membuatnya bertingkah demikian.

"rakyat Hims sekalian? coba sebutkan keluhan-keluahan kalian tadi", kata Umar memulai persidangan.

"dia baru keluar dari rumahnya untuk melayani kami dikala matahari sudah tinggi", jawab mereka.

"Sa'id, apa pembelaanmu?",tanyanya.

"wahai amirul mukminin, Demi Allah, sebenarnya aku benci mengatakan hal ini, namun apa daya, aku akan mengatakannya demi membela diri" jawab Sa'id. "Aku tidak memiliki pembantu di rumah. Setiap pagi aku membuat sendiri adonan roti untuk keluargaku, kemudian aku juga yang memanggangnya hingga matang. Setelah semuanya selesai, aku lantas berwudhu kemudian keluar melayani mereka",lanjutnya.

Mendengar jawaban Sa'id tersebut hati Umar mulai terobati. Ternyata benar, penilaiannya selama ini tidak meleset, dia berbuat demikian bukan karena dorongan rasa malas dan ingin bersantai-santai. Kejujuranlah yang mendorongnya. Karena sifat jujur dan amanahnya itulah dia tidak berani mengambil uang rakyat sepeser pun untuk kepentingan pribadi. Oleh sebab itulah dia tetap hidup miskin dan tidak memiliki pembantu. Kalau saja dia tidak jujur dan amanah, tentu sekarang dia sudah hidup nyaman dikelilingi para pelayan.

"lantas apa lagi?",Tanya Umar kepada rakyat Hims.

"apabila malam tiba dia tidak mau melayani siapapun" jawab mereka.

"apa pembelaanmu, Sa'id?"

"lagi-lagi aku benci untuk menjawabnya, tapi apa boleh buat, aku terpaksa akan menjawabnya demi membela diri", Jawab Sa'id. "aku telah mengorbankan waktu siangku demi melayani mereka, jadi sudah sewajarnya bila waktu malamku aku khususkan untuk bermunajat kepada Allah ta'ala".

Untuk kedua kalinya, jawaban Sa'id bagaikan semilir angin yang mengusir hawa panas dari hati Umar. Memang beginilah seharusnya perilaku orang-orang solih alumni madrasah Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasalam-. Mereka tidak memandang urusan dunia yang membuat mereka super sibuk sebagai uzur untuk melalaikan hak-hak Allah ta'ala.
Kesemrawutan problem sehari-hari, gejolak hidup yang tak lekas pergi, hiruk pikuk alam fana ini, serta beribu urusan yang lalu lalang di kepala mereka, semua itu akan mereda begitu malam tiba, berganti dengan nuansa khusyu' berbalut alunan senandung al- qur'an. Rintihan lirih ketika bermunajat, isak tangis karena takut akhirat, berpadu dengan tasbih dan istighfar hingga penghujung malam, itu semua menjadi melodi tak terpisahkan dari kehidupan malam mereka. Andaisaja kita bisa menyaksikan langsung rupa mereka di pagi hari, niscaya kita akan melihat wajah-wajah berhiaskan garis-garis hitam membujur dari mata hingga pipi. Itulah bekas banjir air mata, saking banyaknya mereka menangis hingga aliran air mata meninggalkan bekas seperti parit di wajah.

"apalagi?",Tanya Umar melanjutkan sidang.

"dalam satu bulan, ada satu hari dimana dia tidak melayani kami sama sekali", jawab mereka.

"apa pembelaanmu, Sa'id?"

"wahai amirul mukminin, aku tidak memiliki pelayan yang mencucikan pakaianku, dan juga aku tidak memiliki pakaian lain selain yang menempel di badanku ini. Oleh karenanya, aku mencuci pakaianku ini satu kali dalam sebulan. Pada hari itu aku mencucinya, kemudian aku menungguinya hingga mengering pada sore hari", jawab Sa'id.

"apalagi?", lanjut Umar kepada penduduk Hims.

"dia sering sekali mendadak pingsan tak sadarkan diri", jawab mereka.

"apa tanggapanmu, Sa'id?"

"wahai amirul mukminin, aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Khubaib Al-anshory menemui ajalnya", jawab Sa"id.
"Ketika itu aku masih dalam keadaan musyrik. Aku menyaksikan orang-orang kafir Quraisy mencincang tubuhnya hidup-hidup seraya berkata, "wahai Khubaib! Apa kau rela andaisaja Muhammad menggantikan posisimu sekarang ini?". Khubaib menjawab, "demi Allah, jangankan posisiku sekarang, sedikit pun aku tak rela Muhammad tertusuk duri sementara aku duduk di rumah bersama anak dan istriku". Setiap kali aku mengingat peristiwa itu, aku selalu dirundung penyesalan. Menyesal karena aku tidak menolongnya. Menyesal karena aku ketika itu bukan termasuk golongan orang beriman. Aku khawatir, jangan-jangan Allah ta'ala tidak akan mengampuni dosaku itu. Itulah yang membuat sering pingsan".

Mendengar jawaban-jawaban Sa'id diatas, hati Umar berbunga-bunga. "segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan penilaianku terhadap dirinya meleset", kalimat itulah itulah yang spontan terlontar dari lisannya. Betapa bahagia dia, ternyata tudingan-tudingan penduduk Hims tehadap orang kepercayaannya ini hanya salah paham belaka.

Seusai sidang, Umar memerintahkan salah seorang pegawainya mengirimkan sekantung uang sejumlah seribu dinar ke rumah Sa'id seraya berpesan, "wahai Sa'id, gunakanlah uang ini untuk membantu keperluan hidupmu".

Sesampai di rumah, istri Sa'id berkata,"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa membeli budak pelayan, sehingga engkau tidak perlu lagi kerepotan".

"Wahai istriku, aku punya usul lain", tanggap Sa'id.

"Kita investasikan uang ini di tangan orang-orang. Lalu, jika suatu saat nanti kita dalam kondisi terdesak membutuhkan uang, baru kita ambil laba dari investasi ini. Bagaimana menurutmu?",usulnya.

"wah, setuju sekali", jawab sang istri spontan.

Istrinya tidak menyadari maksud Sa'id yang sebenarnya. Gambaran yang ada di benaknya, Sa'id akan menanamkan modal pada beberapa pedagang. Dengan begitu, seribu dinar tadi akan berkembang dan semakin banyak, dan menjadi tabungan yang bisa diambil sewaktu-waktu saat kebutuhan mendesak. Padahal maksud Sa'id yang sesungguhnya, dia ingin menyedekahkan seribu dinar itu kepada fakir miskin. Yang nantinya pada hari kiamat, dimana manusia dalam kondisi sangat terdesak membutuhkan amal soleh, sedekah seribu dinar tadi akan sangat menolong mereka.
Tanpa pikir panjang, Sa'id langsung keluar dan memanggil salah seorang kepercayaanya. Lalu, seribu dinar tadi dibagi-bagi dalam beberapa kantung kecil.

"kantung yang ini, tolong berikan kepada janda-janda miskin di kabilah fulan, yang ini, berikan kepada fakir miskin di kabilah fulan, yang ini, berikan kepada keluarga fulan yang sedang terkena musibah", perintah Sa'id. Begitulah seterusnya, hingga yang tersisa tinggal beberapa keping uang dinar.

Lantas ia pulang dan memberikan sisa uang tadi kepada istrinya."gunakan sisa uang ini untuk memenuhi kebutuhan kita", katanya.

"Lho, kau kemanakan uang uang seribu dinar tadi?", tanya sang istri keheranan.

"kita akan mengambil uang itu suatu saat nanti, di saat kita dalam keadaan sangat terdesak", jawabnya sambil berlalu menuju tempat kerjanya.

Semoga rahmat Allah ta'ala selalu tercurah kepada pemimpin-pemimpin semacam ini.

[Disarikan dari buku: Shifatus Shofwah, karya Imam Ibnul Jauzi -rohimahullahu- halaman 254-247]


Kisah Pengemis Yahudi Buta & Nabi Muhammad

Alkisah, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.” Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad—orang yang selalu ia caci maki dan sumpah serapahi. Rasulullah saw melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah saw praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abubakar berkunjung ke rumah anaknya Aisyah, yan g tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah Itu?” tanya Abubakar penasaran. Ia kaget juga karena merasa sudah mengetahui bagaimana kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya. “Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah. Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu ?” Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa.” “Bukan! Engkau bukan ora ng yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan ketus “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.” Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.” Seketika itu juga kaget pengemis itu. Ia pun menangis mendengar penjelasan Abubakar, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim.

SYAHID SELEPAS MENGUCAPKAN SYAHADAT

Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w. sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah s.a.w. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, "Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya." Demikian angkuhnya Amar.

Kaum Muslimin di Madinah pun mengetahui bagaimana keanehan Amar di tengah-tengah kaumnya yang sudah memeluk Islam. Ia terasing sendirian, hatinya sudah tertutup untuk menerima cahaya Islam yang terang benderang. Kini dalam saat orang bersiap-siap akan maju ke medan perang, dia segera menemui Rasulullah s.a.w. , menyatakan dirinya akan masuk Islam malah akan ikut berperang bersama angkatan perang di bawah pimpinan Rasulullah s.a.w. . Pedangnya yang tajam ikut dibawanya. 
Rasulullah s.a.w.  menyambut kedatangan Amar dengan sangat gembira, tambah pula rela akan maju bersama Nabi Muhammad s.a.w.. Tetapi orang ramai tidak mengetahui peristiwa aneh ini, kerana masing-masing sibuk menyiapkan bekalan peperangan. Di kalangan kaumnya juga tidak ramai mengetahui keIslamannya. Bagaimana Amar maju sebagai mujahid di medan peperangan. Dalam perang Uhud yang hebat itu Amar memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Malah berkali-kali pedang musuh mengenai dirinya, tidak dipedulikannya. Bahkan dia terus maju sampai saatnya dia jatuh pengsan.

"Untuk apa ikut ke mari ya Amar?" Demikian tanya orang yang hairan melihatnya, sebab sangka mereka dia masih musyrik. Mereka kira Amar ini masih belum Islam lalau mengikut sahaja pada orang ramai. Dalam keadaan antara hidup dan mati itu Amar lalu berkata, "Aku sudah beriman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu aku siapkan pedangku dan maju ke medan perang. Allah s.w.t. akan memberikan syahidah padaku dalam waktu yang tidak lama lagi." Amar meninggal. Rohnya mengadap ke hadrat Illahi sebagai pahlawan syahid. Waktu hal ini diketahui Rasulullah s.a.w. , maka Baginda s.a.w. pun bersabda,: "Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya." Dan kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Malah Abu Hurairah r.a sahabat yang banyak mengetahui hadith Rasulullah s.a.w. berkata kaum Muslimin, "Cuba kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah s.w.t.."

"Jika kamu tidak tahu orangnya." Kata Abu Hurairah r.a lagi, lalu ia pun menyambung, ujarnya, "Maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit." Demikianlah kisah seorang yang ajaib, masuk syurga demikian indahnya. Ia tidak pernah solat, puasa dan lain-lainnya seperti para sahabat yang lain, sebab dia belum memeluk Islam. Tiba-tiba melihat persiapan yang hebat itu, hatinya tergerak memeluk Islam sehingga ia menemui Rasulullah s.a.w.. Ia menjadi Muslim, lalu maju ke medan perang, sebagai mujahid yang berani. Akhirnya tewas dia dengan mendapat syahadah iaitu pengakuan sebagai orang yang syahid. Mati membela agama Allah s.w.t. di medan perang. Maka syurgalah tempat bagi orang yang memiliki julukan syahid. Rasulullah s.a.w. menjamin syurga bagi orang seperti Amar ini.


Subhanallah yah.. kisah Teladan ini, semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah di atas. Dan semoga ketika kita meninggal dunia, kita  dalam keadaan mati syahid dan khusnul khotimah.
Amiin..  :)

MARKISA (Marawis IKRAMA Skensa)

 Ini adalah penampilan tim marawis kami pada saat MABIT 1 yang bertempat di Masjid Al-ikhlas. dan Insyaallah masiih tetap eksis sampai sekarang.
Amin..

KISAH MALAIKAT JIBRIL DAN MALAIKAT MIKAIL MENANGIS

Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahawa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.
Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, “Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah.”
Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, “Aku membuat apa yang aku kehendaki.” Oleh kerana iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam A.S kerana bangga dan sombong.
Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.
Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.
Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap emapt, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.
Ketika Allah S.W.T membalas tipu daya iblis, maka menangislah Jibril A.S dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, “Apakah yang membuat kamu menangis?” Lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu.”
Firman Allah bagi bermaksud, “Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku.”
Setelah diusir, maka iblis pun berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.”
Lalu Allah berfirman yang bermaksud, “Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.”
Berkata lagi iblis, “Tambahkanlah lagi untukku.” Allah berfirman yang maksudnya, “Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Lalu Allah berfirman dengan maksud, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Maka Allah berfirman lagi yang bermaksud, “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, ertinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, iaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram.”
“Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka.” (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang bermaksud : “Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan.”

Keistimewaan BISMILLAH yang kadang terlupakan


بسم الله الرحمن الرحيم



Kalimat sederhana dan paling populer adalah kalimat basmalah atau bismillah. Meski demikian ia kalimat 
paling keramat dan paling agung. Bagaimana tidak, kalimat yang lafadl lengkapnya “باسم الله الرحمن الرحيم” 
(bismillahirrahmanirrahiim) diulang sebanyak 114 kali di dalam Al-Quran di setiap awal surat Al-Quran 
(kecuali di awal surat At-Taubah).

Namun sayangnya, kebanyakan kita lebih sering menganggapnya enteng, ringan dan sederhana saja. 
Bahkan seringan aktivitas kita terlewat tanpa mengawalinya dengan basmalah. Makan, minum, keluar 
rumah, dan memulai pekerjaan-pekerjaan lain tanpa basmalah. Jika diucapkannya pun seakan menjadi 
rutinitas tanpa pemaknaan mendalam akan maknanya.


Dalam bahasa Arab kata basmalah disebut redaksi naht yakni istilah yang diambil dari rangkaian dua kata 
atau lebih yang menjadi satu yakni bi-ismu-Allah agar lebih mudah diucapkan. Seperti kata orang 
Hadlramaut disingkat menjadi Hadlramy.

Bukan Sekadar Nama

Lafadl basmalah dengan arti lengkap “Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang” 
kadang juga ada yang berseloroh; “apalah arti sebuah nama.” Padahal nama adalah tanda, simbol, 
identitas, bahkan tak sering terkandung visi dan misi. Nama yang disandang manusia juga sering 
bermakna doa. Dengan nama itu sesuatu bisa dikenal dan dibedakan. Sebagian orang membanggakan 
namanya. Karena itu, hal pertama yang diajarkan oleh Allah kepada Adam. Karenanya, kata ism dalam 
bahasa Arab berasal dari dua kata bermakna tanda dan tanpak di atas (tinggi).

Nama yang disebut pun bukan nama sembarangan. Ia adalah nama “Allah”; nama dzat Tuhan yang 
Agung Pencipta alam raya ini dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim: nama Allah yang diambil dari kata 
“rahmat” yang menunjukkan melimpahnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya di dunia 
dan akhirat.

Imam Ar-Razi berkata, “Mengetahui nama harus didahului dengan mengetahui pemilik nama. Kata bi 
(dengan) memiliki makna “terkait langsung dengan perbuatan seseorang”. Maksudnya ketika seseorang 
baca basmalah maka dia mengucapkan; dengan nama Allah aku memulai mengerjakan ketaatan. 
Jika taawudl adalah menafikan segala keyakinan dan amal yang tidak benar, maka bismillah menetapkan 
keyakinan dan amaliyah yang layak. Ini akan jelas bila merenungi dan memahami semua keyakinan yang 
benar dan amal shalih.”

Makna Mengawali Segala Aktivitas dengan Basmalah

Membaca basmalah di awal segala pekerjaan dan aktivitas adalah wajib. Setiap mengawali membaca 
surat Al-Quran, kecuali surat At-Taubah, makan minmum, berpakaian, masuk keluar masjid, berkendara 
dan setiap aktivitas. Terutama lagi ketika hendak menyembelih hewan kurban atau sembelihan lainnya 
yang menjadi syarat halalnya daging sembelihan tersebut.

Meskipun hadits ‘Kullu amrin dzii baalin laa yubda’u fiihi bibismillaahi fahuwa abtar.’ “Setiap perbuatan 
penting yang tidak diawali dengan basmalah maka ia
terputus” dilemahkan oleh para ulama.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib dalam Al Jami’ (2/69,70) 
namun sebagian ulama meng-hasan-kannya.

Hadits lain tentang mengawali makanan, menyembelih, keluar rumah adalah hadits-hadits shahih.

Lantas apa sesungguhnya makna mengucapkan basmalah dalam setiap aktivitas? Huruf ba’ dalam kata 
bismillah memiliki dua makna; lil mushohabah (penyertaan) dan lil isti’anah (meminta tolong). Syekh 
Utsaimin menambahkan, ada makna tawassul dan juga memohon keberkahan.

Selain itu, jika seseorang mengatakan “atas nama rakyat, saya ….” maknanya bisa bermakna otoritas 
dan kekuatan atau mewakili.

Berdasarkan hal di atas, para ulama meringkas basmalah memiliki makna-makna sebagai berikut:

1. Bismillah adalah deklarasi tawakal seorang mukmin kepada Allah.

Dengan bismilllah, seseorang harus mengembalikan tauhidnya dengan bertawakal penuh kepada Allah 
dalam segala masalah. Karena itu Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang keluar rumah 
dan membaca “bismillahi tawakkaltu alallahi laa haula wala quwwata illa billah” maka dikatakan 
kepadanya, “Cukuplah (bagimu Allah), engkau mendapat petunjuk, engkau terjaga dan tercukupi.” 
(HR. Nasai dan Baihaqi)

2. Bismillah adalah deklarasi keimanannya bahwa kehendak Allah di atas segalanya.

Ia harus menghadirkan keyakinan penuhnya bahwa manusia hanya berusaha sementara yang 
menentukan segala urusan adalah Allah.

3. Menyertakan dzikrullah Allah dalam setiap aktivitas.

Bismillah adalah dzikir seorang mukmin. Setiap setiap aktivitas tak boleh lepas dari mengingat Allah. 
Dengan demikian, aktivitas itu meski bersifat dunia tetap akan bernilai ibadah.

4. Mengingatkan perjanjian hamba kepada-Nya agar selalu taat.

Saat seseorang mengatasnamakan Allah dalam aktivitasnya, maka ia sadar bahwa dia memiliki janji yang 
pernah diikrarkan untuk selalu taat dan tidak keluar dari tauhid.

5. Merasakan kebersamaan Allah.

Dengan bismillah, seorang mukmin selalu merasa diawasi oleh Allah. Bila dalam rangka kebaikan maka 
Allah akan menolongnya. Jika menyimpang maka Allah akan dihindarkan dari keberkahan.

6. Menyadari alam raya ini satu kesatuan hamba Allah.

7. Menyadari nikmat Allah kepada hambanya dan mengakui rahmat-Nya.

8. Memohon berkah selalu dalam setiap aktivitas.

9. Menyatakan kebutuhan kepada Allah yang Maha Kuasa.

10. Memuji Allah yang Maha Sempurna dengan nama dan sifat-Nya.

11. Merasakan kemahakuasaan Allah.

12. Jika diawali dengan nama Allah mengharuskan diakhiri dengan memuji Allah.

Keajaiban Basmalah

Konon dalam sebuah penelitian, bacaan basmalah bukan hanya berpengaruh kepada manusia saja 
namun juga kepada benda di dekatnya, terutama air. Gelombang suara mempengaruhi susunan air dan 
ia mampu menyimpan informasi dari gelombang suara yang dibacakan. Untuk selanjuta air yang dibacakan 
itu jika diminum akan memberikan efek positif dan mengobati orang yang meminumnya.

Karenanya, seharusnya seseorang yang hendak melakukan aktivitas sejenak memejamkan mata, 
membaca bismillahirrahmanirrahim dan menghadirkan makna-makna-Nya yang agung dalam dirinya. 
Wallahu a’lam bishawab. (Humjar)

Menjaga Nafsu Syahwat


بسم الله الرحمن الرحيم


Assalamu'alaikum...


Jalan keluar paling ampuh untuk menjaga nafsu syahwat adalah dengan menikah. karena dengan menikah dapat menjaga pandangan dan kemaluan. adapun jika belum mampu menikah, maka perbanyak berpuasa. karena dengan berpuasa dapat mencegah nafsu syahwat yang berlebihan. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

Artinya : "Wahai para pemuda. barang siapa yang bisa jima' maka menikahlah. karena itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. dan barang siapa yang belum bisa, maka berpuasalah. karena dengan itu dapat menahan syahwat." (HR Muslim)

Dalam hadits diatas, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mengkhususnya perintah ini kepada pemuda. karena pemuda lebih besar gangguan syahwatnya dibanding orang yang sudah tua.

Bisa jima' dan menanggung hal-hal yang diakibatkannya, seperti memberi nafkah baik berupa makanan atau pakaian. maka Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- memerintahkannya untuk segera menikah.

Adapun pemuda yang mampu jima' akan tetapi belum mampu memberi nafkah, maka diperintahkan untuk berpuasa. karena ketika seseorang berpuasa dia berusaha menjaga puasanya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. dengan itu, dia akan lebih menjaga syahwatnya.


Wa'alaikumsalam...
Assalamalaikum '

:)
untuk para DAI (Dewan Alumni Ikrama)
Kami selaku pengurus Ikrama periode 2011/2012) turut mengundang , dalam acara kunjungan ketempat islami.
Acara dilaksanakan pda :

Hari :Senin
Tanggal : 26 DEsember 2011
pukul : 05.00 (berkumpul di sekolah)

Afwan :)

Wasalamualaikum wr.wb
Salam kami pengurus agkatan 2011/2012

10 kepribadian muslim

Al-Qur’an dan hadits adalah dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.

Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Persepsi atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyahnya saja.

Padahal, itu hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang bersih merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).

4. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani). Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir). Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS 2: 219)

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.

Allah SWT berfirman yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39: 9)

6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu). Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.

Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu). Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan). Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri). Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

Karena, pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain). Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing. Wallahu’alam



Kesempurnaan yang paling sempurna
“Kesempurnaan yang paling sempurna adalah tafakkuh (mendalami) agama, sabar menghadapi musibah dan ekonomis dalam mengeluarkan biaya hidup”.
“Hati-hatilah terhadap orang yang teraniaya, karena doanya akan terangkat sampai ke langit.”
“Tiga manusia adalah sumber kebaikan :
  • Manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara),
  • Manusia yang tidak melakukan ancaman, dan
  • Manusia yang banyak berzikir kepada Allah.”
senyum kepada saudaramu adalah sedekah ''''''
:)
(hadist bukhari muslim)

Tentang Ikrama

Ikrama adalah suatu organisasi islam yang ada di SMKN 1 Rangkasbitung. Organisasi yang memiliki nama panjang "Ikatan Remaja Masjid Al-Ikhlas" ini bersifat mengajak dan mempererat tali persaudaraan sesama umat muslim di SMKN 1 Rangkasbitung. Aktivitas Ikrama tidak hanya pengajian bersama atau semacamnya. Tapi di Ikrama ini banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan. Tentunya aktivitas yang diridhoi oleh Allah swt lho.. :)

Sesuai dengan definisinya, Ikrama ini adalah organisasi. Jadi, di Ikrama juga diajarkan bagaimana cara berorganisasi dengan baik.. apalagi kita bisa bergaul dengan orang-orang yang insya Allah berjihad di jalan Allah... wiiih.. subhanallah deh.. suasananya bikin hati kita nyaman..